PERISTIWA CHARMARTIN; FRANCO DAN FC BARCELONA

Setelah mengalahkan Malaga dengan aggregate 6-4, Fc Barcelona melenggang mulus ke fase berikutnya yang akan berhadapan dengan Real Madrid pada tanggal 30 January 2013 (31 January waktu Indonesia) nanti. Sebuah pertarungan el clasico tambahan di luar liga. Sebuah pertarungan yang menegangkan! Sebuah duel gengsi yang sarat tensi!

Pertemuan antara Fc Barcelona dengan Real Madrid di Copa del Rey sudah berlangsung selama 100 tahun lebih, dimulai pada 1902 sebanyak 19 pertemuan. Barca menang atau lolos sebanyak 7 kali, Real Madrid menang atau lolos sebanyak 5 kali. Pertemuan terakhir keduanya terjadi di tahun 2012 lalu yang dimenangkan oleh Barca dengan aggregate 4-3.

Rekor Pertemuan Real Madrid vs Fc Barcelona di CdR
Pertandingan yang terkenal diantara keduanya adalah pertandingan semifinal Copa del Generalismo di tahun 1943 yang berakhir dengan aggregate 11-4 bagi kemenangan Real Madrid. Pada pertandingan leg pertama di Les Corts berakhir dengan kemenangan Fc Barcelona dengan skor akhir 3-0. Gol kala itu diciptakan oleh Jose Valle Mas, Jose Escola Segales dan Jaime Sospreda Julia. Tiket menuju final pun sudah di depan mata. Fc Barcelona yang menjadi juara bertahan memang diunggulkan kala itu. Namun pertandingan leg kedua di stadion Charmartin menjadi petaka. Mimpi buruk menjadi kenyataan.

Kekalahan 11-1 terjadi. Gol bagi Real Madrid diciptakan oleh Prudencio Sanchez Fernandesz sebanyak 3 gol, Sabino Barinaga Alberdi sebanyak 4 gol, Jesus Alonso Fernandez 2 gol, Pascual Bottela Domingo 1 gol dan 1 gol bunuh diri Jose Puig Puig yang dikenal dengan nama Curta. Dari pihak Fc Barcelona hanya Mariano Martin Alonso yang membuat gol.

Suatu pertandingan kontroversi dengan julukan peristiwa Charmartin. Nama Charmartin sendiri diambil dari stadion Real Madrid yang dikemudian hari berganti nama menjadi Santiago Bernabeu. Beragam ide dan opini keluar akibat kekalahan Barca yang sangat memalukan itu. Salah satu teori yang terkenal adalah adanya campur tangan Franco? Betulkah?

Ok, ini bahasan berikut akan sedikit ribet. Baca pelan-pelan agar faham. :D

Poin pertama: Jenderal Franco memakai Real Madrid sebagai propaganda pada tahun 1950an ketika Real Madrid memulai kesuksesannya di Eropa. Hal ini sama dengan diktator Mussolini yang memakai olahraga sepakbola di Italia sebagai propaganda. Harap diketahui bahwa arti fasisme yang kala itu dianut diktator-diktator Eropa adalah persatuan negara menggunakan sistem totalitarian (diktatorisme) untuk membentuk masyarakat yang disiplin, doktinasi dan latihan fisik/keunggulan fisik. Artinya, sepakbola (latihan fisik) menjadi menjadi salah satu kunci. Entah itu sebagai propaganda atau sebagai menciptakan masyarakat yang sehat yang dapat dipakai untuk berperang. Maka tidak heran di era tersebut banyak pembunuhan massal terhadap etnis tertentu yang dianggap lemah atau tidak memenuhi "ketentuan fisik".

Apakah Franco mengidolakan Real Madrid? Bisa jadi. Ada kemungkinan seperti itu. Namun jika melihat rentang waktu antara berakhirnya perang saudara Spanyol sampai titel juara Real Madrid, sepertinya agak mustahil. Perang Saudara Spanyol berakhir pada tahun 1939, dan pertama kalinya Real Madrid menjuarai sebuah kompetisi adalah di musim 1945/46 yaitu piala Copa del Rey. Berarti 16 tahun bagi Real Madrid harus puasa gelar. Betul?

Logikanya, jika memang Franco mengidolakan Real Madrid, maka Real Madrid seharusnya bisa langsung juara ketika perang berakhir. Karena Franco memiliki kekuasaan absolut, maka Franco bisa menggunakan kekuasaan tersebut untuk merubah jalannya pertandingan. Betul kan? Tetapi di tahun 1939 sampai 1946, Real Madrid minim prestasi. Jika memang ajang Copa del Generalismo tersebut dipengaruhi oleh Franco, kenapa di final Real Madrid bisa kalah oleh Athletic Bilbao? Hal ini yang mengusik pemikiran saya atas teori tersebut. Kenapa di final Real Madrid bisa kalah oleh Bilbao, padahal partai final dilaksanakan di kota Madrid? Padahal Franco bisa memakai kekuasaannya untuk mengancam pemain Bilbao seperti yang pernah dilakukan oleh dirinya ke para pemain Fc Barcelona. Faham kan logika saya?

Poin kedua: Angel Mur, seorang masseur tim Fc Barcelona berkata jika "During the game our goalkeeper was so petrified of being hit by missiles that he spent most of the game as far forward from the goal as possible, allowing Madrid players to strike at the net from all directions". Kata "missiles" berarti roket atau misil kan? Logikanya, apakah mungkin ada senjata di lapangan? Jika memang ada, kenapa hanya kiper saja yang ketakutan? Pelatih dan staff yang berada di bench pun merupakan sasaran empuk. Kata missiles tersebut pun dipakai oleh media massa ketika Figo mengambil tendangan penjuru pada pertandingan el clasico 2002 lalu yang berarti lemparan. Dari situ bisa kita ambil kesimpulan jika Lluis Miro (kiper saat itu) ketakutan karena lemparan dari fans di Charmartin. 

Poin ketiga: Ada yang berkata jika aparatur pemerintah datang ke ruang ganti Fc Barcelona pada jeda babak kedua untuk mengatur pertandingan. Yakin dengan teori tersebut? Fc Barcelona sudah kalah 8-0 pada pertandingan babak pertama. So, akan percuma jika pada babak kedua ada aparat masuk ruang ganti pemain Fc Barcelona dan mengancam agar Fc Barcelona mengalah.  

Poin keempat: Media massa. Pada pertandingan leg pertama, Barcelona mengalahkan Real Madrid dengan permainan menarik (passionate match). Namun kemudian media massa kota Madrid membuat berita berlebihan mengenai perlakuan fans di Les Corts yang memicu massa (madridista) untuk bersikap bermusuhan (hostile) kepada Fc Barcelona yang akan menjalani pertandingan leg kedua. Memang ada laporan jika wasit bersikap berat sebelah. Namun sikap wasit tersebut umum terjadi jika mendapat tekanan dari fans tuan rumah. Apa lagi dengan hasutan media massa yang menggerakan madridista, maka tidak heran jika wasit seperti mendapat tekanan. Contoh kecil dari tekanan fans tuan rumah kepada wasit, sering kali terjadi di liga Indonesia.

Mungkin poin ketiga ini terkesan lebay. Namun media massa memiliki pengaruh yang dalam terhadap pembacanya. Bahkan media massa (Marca) menjadi musuh yang merusak tubuh Real Madrid akhir-akhir ini dengan pemberitaan yang selalu menyudutkan Jose Mourinho. Sampai-sampai Florentino Perez membantah semua tuduhan Marca, meski berita yang dikeluarkan Marca memang terjadi di kubu Real Madrid. Padahal sudah bukan rahasia jika Marca adalah media massa yang pro Real Madrid, dan hal itu ditegaskan oleh editor Marca sendiri.

So, jika melihat 3 poin diatas, apakah mungkin Franco mempengaruhi jalannya pertandingan? Teori pengaturan skor masih memungkinkan terjadi. Namun jika spesifik merujuk pada Franco, maka hal tersebut agak tidak mungkin. Maksud dari "pengaturan skor" ini adalah direksi/manajemen Real Madrid mengatur jalannya pertandingan, tanpa ada bantuan dari Franco. Liga Spanyol memang acap terjadi pengaturan skor. Bahkan wakil presiden Liga Profesional Spanyol (LFP), Javier Tevas berkata jika di liga Spanyol memang ada pengaturan skor. Namun sampai saat ini belum ada yang terbukti.

Hubungan antara Franco dengan Fc Barcelona dan Real Madrid memang masih menjadi kontroversi. Tapi jika melihat histori Spanyol pada Perang Saudara era Franco dan keadaan liga kala itu, maka kecil kemungkinan Franco mempengaruhi jalannya pertandingan semifinal Copa del Generalismo. Beragam teori mengenai keterlibatan Franco yang berhubungan dengan Fc Barcelona memang banyak. Pun bantahan-bantahan banyak bertebaran. Jika saya membuka semua teori-teori tersebut berserta sanggahannya dan kenyataan yang terjadi, maka akan memakan waktu banyak.

Saya bukan pro Real Madrid. Saya hanya ingin melihat suatu masalah dari dua sisi. Ya, saya fans Barcelona, namun bukan berarti saya fanatik berlebihan. Saya menghargai Real Madrid karena mereka adalah tim yang besar dan kuat. Saya tidak peduli dengan Franco, sejarah Spanyol atau kemerdekaan Katalan, karena saya orang warga negara Indonesia dan semua itu tidak berimbas kepada saya langsung. Saya mencintai Fc Barcelona, menghargai adat Katalan dan menghargai Real Madrid. Perdebatan mengenai siapa klub terbaik tidak akan menemui akhir. Sampai kiamat pun perdebatan tersebut akan selalu ada karena setiap tim memiliki kelebihan dan kekurangan. Marilah kita belajar menilai sesuatu dengan objektif. :))

Biasakan membantah setiap opini dengan tulisan, bukan dengan caci maki. Itu tandanya kita supporter yang dewasa yang menghargai opini orang lain.




PRIMER EL BARCA

1 komentar: