Media Massa Spanyol Dan Keberpihakannya Kepada Klub Sepakbola

Kala sedang menikmati perlombaan update di timeline Twitter, saya melihat sebuah tweet mengenai keberpihakan media massa di Spanyol. Menurut artikel @csi_wulan, media massa olahraga di Spanyol memiliki kubu klub yang wajib untuk dibela. Seakan ada intrik dan misi penyebaran dogma siapa yang benar dan siapa yang salah dalam membela klub La Liga. 

Ada pepatah yang menyebutkan "Siapa yang menguasai media massa, maka dia akan menguasai dunia." Andai ditelaah, ada benarnya peribahasa tersebut. Contoh kecil terjadi kala pemilihan presiden Indonesia pada medio Juni hingga April. Bagaimana dua kubu saling memanfaatkan kedekatannya dengan pemilik media massa dan menyebarkan propaganda kelebihan masing-masing kandidat. Hal serupa terjadi pada dunia sepakbola Spanyol. 

Sudah menjadi rahasia umum para penikmat sepakbola La Liga jika Mundo Deportivo dan Sport lebih condong membela FC Barcelona. Sedangkan Real Madrid disokong oleh Marca dan AS. Bagi klub-klub lainnya, hanya ada satu halaman di belakang (atau mungkin hanya kolom kecil) dan lambaian tangan terhadap rencana manajemen klub dalam hal pemasaran. Merugikan? Tentu saja. Tapi tidak usah khawatir. LFP mencoba menjadi dewa penolong dengan mengadakan LFP World Challenge demi memasarkan La Liga dan klub-klub Liga Spanyol ke dunia. Sevilla, Almeria, Malaga CF adalah contohnya.

Dalam sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Gonzalez Ramallal, disebutkan bahwa 70 persen media massa di Spanyol berbicara mengenai olahraga. Jika kita berbicara soal sepakbola Spanyol, ya tidak akan jauh-jauh dari Real Madrid dan FC Barcelona. Maka tidak heran jika prosentase berita mengenai dua klub ini sekitar 9-12 persen. Sedangkan klub-klub lainnya harus puas berkumpul dalam 6 persen. Akan tetapi angka ini bukan patokan resmi karena tergantung kepada kesuksesan yang bisa diekspos. 
  
Sebetulnya, kondisi keberpihakan ini terjadi karena faktor finansial semata dan tidak ada kaitannya dengan kedua klub. Jika dirunut kebelakang, El Mundo Deportivo yang berdiri pada tahun 1906 (atau sekarang menjadi Mundo Deportivo saja) merupakan media massa olahraga kedua di Eropa setelah Gazzeta dello Sport (berdiri tahun 1896). Awalnya Mundo bukanlah koran khusus sepakbola semata. Bahkan sepakbola masuk kedalam kolom olahraga yang kurang populer di Katalunya. Cabang olahraga bersepeda, atletik, tinju, balap motor adalah cabor jualan Mundo waktu itu. 

Akan tetapi semua itu berubah kala Negara Api menyerang. Eh.. Maksudnya berubah kala Timnas Spanyol memenangi medali perak di Olimpiade 1920 Antwerp. Kebanggaan atas keberhasilan itu membuat masyarakan Spanyol memperhatikan sepakbola dan El Mundo Deportivo pun kian menambah halaman khusus sepakbola. 

Pergolakan politik di Spanyol membuat El Mundo mendapatkan saingan terbaru. Adalah Marca yang lahir diantara reruntuhan Perang Saudara Spanyol di Sant Sebastian, tahun 1938. Salah satu jurnalis Marca bernama Miquelarena berkata jika niatan pembentukan Marca sebagai kebutuhan "change in the conception of football to make it fit in the new values of the State (fasisme). During the II República (Republik Spanyol Kedua), football was a red (communist) orgy of the lowest and evil regional passions."

Sebelum membaca lebih jauh, perlu diketahui jika kala itu Real Madrid memiliki rivalitas dengan Athletic Bilbao, bukan dengan FC Barcelona. Bilbao menjadi klub sukses Spanyol terlebih dahulu, dibanding FC Barcelona. Maka tidak heran jika jurnalis Marca melihat suporter Bilbao dengan rasa jijik melebihi apapun. Padahal Marca sendiri berdiri di daerah Basque karena perbedaan pandangan politik. 

Setelah Perang Saudara berakhir, Marca memindahkan kantornya ke kota Madrid. Disaat yang bersamaan, El Mundo Deportivo kembali terbit (setelah tutup karena perang) dengan memampang foto Franco disampul dan sebuah tribut kepada "Siapa pun yang menjadi korban dalam mempertahanan Tuhan dan Spanyol" sebagai bentuk dukungan kepada pemerintahan Franco. Hal ini bisa dimaklumi karena faham Falangist menyebar kala itu. Mau tidak mau, El Mundo harus turut serta dalam arus.

Masih ingat peristiwa 11-1 antara Real Madrid vs FC Barcelona? Sebagaimana saya tulis dalam buku El Llibre del Barca, peristiwa tersebut tidak ada campur tangan Franco secara langsung. Akan tetapi media massa yang pro Franco yang seharusnya bertanggung jawab. Setelah kalah 0-3 di Stadion Les Corts oleh FC Barcelona, Marca menurunkan berita yang berat sebelah dengan mengatakan jika laga di Les Corts penuh tipu muslihat dan kemudian memicu suasana panas kala pertemuan kedua dilaksanakan di Stadion Charmatin. Di sini lah El Mundo Deportivo kembali menunjukan kiblatnya dengan mengamini pemberitaan Marca. Pertandingan pertemuan kedua pun berjalan ricuh dengan pelemparan-pelemparan yang dilakukan suporter Madridista ke para pemain FC Barcelona, khususnya kiper Lluis Miro. 

Meski pengontrolan dan sensor masih dilakukan pada tahun 1967, namun terbit media massa baru, yaitu AS. Lahirnya AS ternyata tidak membawa perubahan karena masih sama seperti Marca visi dan misinya. Sedangkan El Mundo Deportivo lebih condong memberitakan soal Katalunya, bukan kemerdekaan Katalunya. 

Kala angin demokrasi yang menyentuh Spanyol pasca meninggalnya Franco pada tahun 1975, membuat perubahan signifikan dan vital. Harian olahraga yang pertama terbit dengan nuansa demokratis adalah Sport yang lahir dari daerah Katalunya. Sport yang dibentuk oleh Grupo Zeta ini mengambil nama dari bahasa Inggris dan sedikit senada dengan kata dalam bahasa Katalan (Esport). Terbitnya Sport seakan mendobrak dominasi tiga media massa besar di Spanyol. Sport keluar dari pakem tradisi kala itu dengan memberikan warna pada tajuk dan gambar, grafis yang berbeda dan isi yang 'spektakuler'. 

Jika Marca dan El Mundo Deportivo memakai kesuksesan Real Madrid pada tahun 1950 dan 1960an serta timnas Spanyol sebagai corong propaganda Furia Espanola, maka Sport berani mengambil resiko dengan menjadi 'corong' FC Barcelona. Memang, sejak awal dibentuk, Sport mengkhususkan diri pada FC Barcelona, padahal Barca tahun 1970an kurang begitu sukses. Namun faktor manajemen Barca (presiden Agusti Montal i Costa yang mendukung Nasionalisme Katalunya) dan juga ketenaran Johan Cruyff, membuat Sport berani mengambil resiko. Sport bahkan tidak perlu memasukan RCD Espanyol karena merasa tidak menjual dan tidak sefaham dalam Nasionalisme Katalunya. 

Bagi Marca dan AS, Sport tidak pernah menjadi saingan karena Sport lebih banyak dibaca di daerah Katalunya. Tidak seperti Marca dan AS yang dibaca di seluruh Spanyol, El Mundo Deportivo merasa tersaingi oleh Sport karena sama-sama dari daerah Katalunya. Perbedaan dua harian asal Katalunya ini adalah El Mundo Deportivo memiliki hubungan dengan borjuis Katalan yang merupakan bagian dari grup editorial Godo dan moderat, meski sama-sama berkecimpung dalam Nasionalisme Katalunya. Sedangkan Sport menyatakan diri sebagai Katalanisme dan pro-cule. 

Perubahan pun terjadi di kota Madrid. AS seakan menjadi pengekor kesuksesan Marca, dengan kebiasan terhadap madridista dan editorial line yang moderat dengan memberikan ruang khusus bagi klub sepakbola lainnya. Di tahun 1996 AS dijual kepada grup media PRISA yang juga telah memiliki El Pais, Cadena Ser, Cadena 40 dan Canal+ (bukan tv kabel asal Perancis). Dibawah PRISA, AS mengalami perubahan signifikan dengan jurnalis-jurnalis yang sudah ada didalam anak perusahaan PRISA. AS mengikuti apa yang telah dilakukan Sport, yaitu memihak klub sepakbola, dalam hal ini Real Madrid. Hingga saat ini, jurnalis-jurnalis AS secara terang-terangan menunjukan keberpihakannya di akun sosial media. 

Perubahan yang dilakukan AS sontak membuat Marca dan El Mundo Deportivo sedikit kelabakan. Adalah El Mundo Deportivo yang melakukan perubahan di tahun 1999 dengan mengganti nama menjadi Mundo Deportivo saja dan mengikuti apa yang saingannya lakukan, menambah warna, grafis dan radikalisme dalam pemberitaannya. Sedangkan Marca bertransformasi pada 2007 setelah dibeli oleh Union Editorial. Direktur Marca yang baru kala itu, Eduardo Inda menambahkan editorial yang pro-madridista. Sebuah langkah sensasional! 

Tidak mau kalah, untuk mengakomodir valencianisme yang sedang tumbuh maka lahirlah Superdeporte di Valencia. Harian ini menjadi oposan terhadap Sentralisasi media massa Madrid dan Katalanisme media massa Barcelona. Melihat peluang ini, maka Marca dan AS membuat edisi khusus untuk daerah-daerah lain agar bisa lebih dekat dengan pembacanya. Sedangkan Mundo Deportivo menciptakan tiga edisi berbeda untuk suku Basque, satu di Bizkaia dengan sasaran fans Athletic Bilbao, satunya lagi di Gipuzkoa dengan target fans Real Sociedad dan di kota Madrid dengan nama Mundo Atletico yang memiliki sasaran fans Atletico Madrid. Khusus untuk Mundo Atletico, Mundo Deportivo memanfaatkan celah yang ditinggalkan AS dan Marca karena lebih fokus ke Real Madrid.

Dengan keberagaman harian yang beredar, maka tidak heran jika keobjektifan sebuah berita bisa menjadi bias andai berhubungan dengan sepakbola. Salah satu contoh dalam keberpihakan media massa adalah teori Villarato yang ditulis oleh Alfredo Relano di AS. Dalam artikel Relano, disebutkan jika UEFA memiliki favoritisme kepada FC Barcelona karena sosok Angel Maria Villar, presiden LFP. Disaat yang sama, media massa Katalunya tidak segan-segan mengamini teori yang dilempar oleh Joan Laporta mengenai kekuatan tidak terlihat yang berniat menghancurkan (citra) FC Barcelona dan dirinya. 

Akan tetapi tidak semua pemberitaan ditujukan kepada sang rival. Tidak terhitung berapa banyak artikel yang dipakai pihak-pihak tertentu untuk menyerang pihak klub atau pihak-pihak yang dekat dengan klub. Salah satu contohnya adalah kala Marca merusak reputasi Ramon Calderon yang kemudian membuat jalan bagi Florentino Perez untuk menguasai kursi kepresidenan Real Madrid. Anehnya, Marca sendiri menciptakan opini anti Manuel Pellegrini sejak awal musim 2009/10 bergulir. Jangan lupa dengan 'kisah cinta segitiga' antara Jose Mourinho, Florentino Perez dan Jorge Valdano yang diekspos besar-besaran oleh AS karena kedekatan Valdano dengan PRISA. 

Sedangkan di Katalunya, Mundo Deportivo kerap menyinyir kepresidenan Joan Laporta. Di tahun 2010 Mundo Deportivo bahkan menyatakan dukungannya kepada Sandro Rosell dalam pemilihan presiden. Hubungan antara Mundo Deportivo dengan Laporta sediri sebetulnya berjalan dengan baik di awal kepresidenan. Apalagi salah satu bentuk program kebangkitan FC Barcelona yang digagas oleh Laporta sendiri adalah mendekati media massa, karena dua presiden sebelumnya, yaitu Josep Lluis Nunez dan Joan Gaspaart, tidak bisa akur dengan media asal Katalunya. 

Ada satu hal menarik yang patut disimak, yaitu langkah Marca dan AS dalam meraup pasar suporter Real Madrid di luar negeri dengan merilis laman resmi berbahasa Inggris. Langkah ini penting bagi faham madridismo yang dianut kedua media massa karena bisa dipakai menyebarkan berita-berita yang condong kepada Real Madrid kepada fans Barcelona yang tidak fasih berbahasa Katalan dan Spanyol. Sport dan Mundo Deportivo sendiri terlalu ekstrim dan kuno dalam membaca Nasionalisme Katalunya dengan tanpa laman resmi berbahasa Inggris. Keempat media massa ini memang lebih fokus dalam pemberitaan apa yang mereka yakini, namun jika diperlukan untuk menyerang kubu lawan, keempatnya sudah siap sedia dengan pemberitaan negatif, baik itu kekalahan atau skandal. 



PRIMER EL BARCA!

1 komentar:

  1. AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    Bonus 10% All Games Bolavada || Bonus Cashback 10% All Games Bolavada, Kecuali Poker ||
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!! Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!! ONLY ON : BOLAVADA(dot)com
    BBM : D89CC515

    bandar judi
    agen terpercaya
    sabung ayam bangkok
    Forum Bola
    sabung ayam

    BalasHapus